Ekranisasi …

Proses adaptasi dari suatu genre sastra ke bentuk film dikenal dengan istilah ekranisasi. Istilah ini sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Prancis, écran yang berarti ‘layar’.

Eneste (1991: 60) mengistilahkan bahwa ekranisasi adalah suatu proses pelayar-putihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film.

Eneste juga menyebutkan bahwa pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan.

Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan—bisa mengalami penciutan, penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.

Dalam istilah yang lain, Damono (2005: 96) menyebutnya dengan istilah alih wahana. Istilah ini hakikatnya memiliki cakupan yang lebih luas dari ekranisasi. Lebih lanjut, Damono menjelaskan bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain.

Alih wahana yang di maksudkan di sini tentu saja berbeda dengan terjemahan. Terjemahan atau penerjemahan adalah pengalihan karya sastra dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sedangkan alih wahana adalah pengubahan karya sastra atau kesenian menjadi jenis kesenian lain.

Damono mencontohkan cerita rekaan diubah menjadi tari, drama, atau film. Alih wahana juga dapat dilakukan dari film ke novel, atau bahkan puisi yang lahir dari lukisan atau lagu dan sebaliknya. Lebih lanjut disebutkan bahwa di dalam alih wahana akan terjadi perubahan.

Dengan kata lain, akan tampak perbedaan antara karya yang satu dan karya hasil alih wahana tersebut. Alih wahana novel ke film misalnya, tokoh, latar, alur, dialog, dan lain-lain harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan jenis kesenian lain (Damono, 2005: 98).

Perbedaan wahana atau media secara langsung akan mempengaruhi cara penyajian cerita, bentuk penyajian cerita. Selain masalah keterbatasan (limit) yang dimiliki oleh masing-masing media (seperti dijelaskan oleh Bluestone, 1957: 1), masalah proses resepsi, pembacaan, penulis skenario atau sutradara terhadap karya tersebut juga akan berpengaruh terhadap kehadiran karya adaptasi.

Karena resepsi tidak dapat lepas dari interpretasi. Dalam proses tersebut, kompleksitas permasalahan ideologi dan tujuan-tujuan, intensi, pesan, misi, dan keinginan penulis skenario, sutradara ataupun produser sangat dipengaruhi oleh jiwa zaman, fenomena sosial yang berkembang, kultural, dan sosial masyarakatnya.

.

.

.

……….. [ … Read More … ] …………..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Skip to toolbar