Tips Menghilangkan Kebiasaan Menunda-nunda Pekerjaan

Tips Pertama.

Hindari “thulul amal” (= panjang angan-angan)

-Jangan merasa masih akan hidup lama pada waktu mendatang, padahal realitasnya, kematian selalu siap menjemput kita.

-“Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka lakukanlah shalat sebagai shalat seseorang yang akan meninggal!” (HR. Ahmad)

Tips Kedua.

Hindari lebih percaya dugaan daripada realitas

-Percaya Diri (PD) itu bagus, tapi jangan lantas menunda-nunda, siapa tahu kondisi eksternal berubah tiba-tiba.

-“Shadaqah apa yang terbesar pahalanya?”

Rasul: “Shadaqah saat kau masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan jangan tunda hingga nyawa di tenggorokan, dan kau baru berkata ‘untuk si fulan sekian, dan untuk si anu sekian’ padahal harta itu sudah hak ahli warisnya” (HR. Bukhari & Muslim)

Tips Ketiga.

Hindari menjadikan orang lain sebagai tolok ukur negatif

-“Alhamdulillah, si anu juga belum ngerjain tugas “

-Tiap-tiap manusia bertanggungjawab dengan apa yang dikerjakannya. (Qs. 52:21)

-Harusnya:

“Orang lain aktivis dakwah, tapi juga cum-laude, kenapa saya tidak?”

“Orang lain bisa “gaul” tapi juga menjauhi maksiat, kenapa saya tidak?”

Tips Keempat.

Hindari “Wah lagi malas nih …”

-Cara termudah: paksakan diri melawan malas.

-Banyak berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang menggoda dengan bentuk rasa malas.

-“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesusahan, dari sifat lemah dan malas, dari sifat pengecut dan bakhil, dari bergelimang hutang dan dikuasai orang lain”

Tips Kelima.

Penundaan sangat mungkin karena ketidaktahuan tentang apa yang harus dikerjakan. Jadinya …. melamun saja ….

-Rasulullah telah memberi contoh, agar setiap aktivitas penggunaan waktu direncanakan dengan seksama.

-Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Qs. 94:7)

-Rencanakan jauh ke depan … sampai akherat !!!

Tips Keenam.

Jangan melebihi kapasitas diri sendiri

-Kita sehari sama-sama dibekali 24 jam!

-Skala prioritas tolok ukurnya jelas: hukum syara’

Aktivitas utama adalah yang fardhu, baru yang mandub (sunnah), baru yang mubah.

-Pengalaman, banyak aktivitas yang la yamutu (tidak bermutu), misalnya nonton TV banyak-banyak.

-“Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apapun yang tidak berguna baginya” (HR Turmudzi)