All about Indonesian Film

Film adalah media untuk menyampaikan pikiran, ide, dan gagasan. Dengan film ini, diharapkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang disampaikan dapat berdampak positif bagi audiennya. Hal ini sejalan dengan dengan pendapat bahwa seni berfungsi “dulce et utile“, yang maksudnya menghibur dan bermanfaat. Oleh karena itu, dalam sebuah film selalu terselip pesan yang hendak disampaikan oleh sang sutradara kepada audien-nya. Walau hanya sekedar sebuah pesan sisipan, tetapi jika hal ini terjadi secara terus-menerus, maka ia dapat “masuk” ke dalam diri audien-nya dan sangat mungkin akan berpengaruh dalam perilaku kesehariannya. Karena pesan ini sifatnya hanya sebuah “sisipan”, maka tidak setiap pesan dapat tercerap dengan sempurna. Semua itu sangat bergantung pada horison harapan sang audien. Hal inilah yag kemudian banyak dimanfaatkan oleh produsen film yang memiliki “ideologi” tersamar. Ia akan dengan sengaja berusaha “memasukkan” ideologi” tersebut dalam bentuk “pesan” sisipan.

Ketika sebuah informasi baru itu sampai, maka jika “pesan”-nya sesuai dengan pemahaman yang ada dalam pikiran sang audien, pesan itu akan tercerap dengan baik. Namun, jika pesan itu berbeda dengan pemahaman sebelumnya, maka ia akan mengalami disonansi kognitif atau pergolakan batin. Lebih kuat mana, informasi lama atau baru? Jika informasi baru yang lebih kuat, maka ia akan tersugesti. Jika ia tidak tersugesti, maka informasi baru tersebut akan terbuang, dan ia menjadi pribadi yang teguh pendirian.

Semua ini kembali pada cara berpikir kita, jika kita terbiasa berpikir elementaristik, hanya terpaku pada potongan adegan yang membekas pada “jiwa”-nya, maka potongan sekuen tersebut akan mempengaruhinya. Akan tetapi, jika kita terbiasa berpikir holistik, maka sekuen itu akan dilihat dalam konteks keseluruhan cerita dalam film.

Kita tahu bahwa film itu hasil dari sebuah refleksi, bukan sebuah kenyataan. Tetapi, Mengapa kita bisa dibuat tertawa, sedih, atau marah, bahkan menangis tersedu-sedu ketika menyaksikan sebuah film? Itulah sebabnya, film “mempunyai daya sihir” (Dedy Mizwar, 2011)

.

.

.

………..[ … Read More … ] ………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar